Sungguh suatu pengalaman yang menarik ketika kami berkesempatan untuk mengunjungi suku sasak di lombok, biasa tugas kantor tp teteup klo ada senggang pasti kita manfaatin untuk travelling meski cuma sebentar, kan yg penting kerjaannya udah selese
hehe
Anyway, perkampungan sasak ini menjadi salah satu tempat paling menarik menurut saya dr tmpt yg pernah kami singgahi..kampung ini tertutup dr warga lainnya meskipun letaknya sudah di pinggir kota namun satu wilayah kampung hanya dihuni oleh suku ini, semuanya jadi keluarga besar..karena mrk masih
menerapkan pernikahan dengan sepupu atau keluarga jauh lainnya pokoknya tidak keluar kampung
kampung ini sebenarnya tidak terlalu luas, saya agak lupa berapa KK yang menghuni dan brp rumah yang ada
rumah2 disana sangat khas, dengan atap apa ya namanya daun rumbia mungkin, terus bangunan rumahnya sederhana
dimana semua aktivitas rumah tangga berlangsung disana, spt masak, tidur, menerima tamu dsb temen saya sampai berbisik (dik..dik..kedengeran donk klo lagi …*sensor mode*
hauhauaha), rumahnya sangat gelap, praktis cahaya hanya diperoleh dari pintu utama, ada rumah yang satu lantai atau dua lantai..tidurnya juga tidak pake dipan apalagi spring bed..cukup melantai..ya mungkin dengan tambahan tikar
lantainya menurut pemandu kami terbuat dr kotoran kerbau, namun amazingly udah berbentuk kayak semen gitulah..gak nyangka lah klo itu, dindingnya juga tidak berasal dr bahan bangunan permanen/semen mereka masih memegang erat tradisi, kaum lelakinya masih menggunakan sarung (yang sepertinya memang pakaian kebanggaan di pulau lombok) walaupun atasannya
sudah menggunakan baju kaos biasa..kaum wanitanya juga menggunakan sarung dan baju seadanya, kadang malah hanya pake kutang aja
klo mereka sedang menenun..hehe
karena menenun ini kelihatannya memang gampang tapi sesungguhnya cukup rumit dan mengelarkan tenaga dan konsentrasi yang cukup karena itu mereka mungkin kadang kegerahan dan aktivitas ini kebanyakan dilakukan di teras rumah mereka, that’s why harganya cukup mahal nih hasil tenunan mereka, ratusan ribu pasti buka harganya..
penghasilan mereka diperoleh dr hasil bertani dan menenun, umumnya para wanita suku ini menenun dan membuat kerajinan tangan
dan dijual di perkampungan itu juga, sehingga tidak asing lagi rumah-rumah mereka juga dijadikan show room hasil kepiawaian tangan mereka
barang2nya tidak banyak jenisnya, mereka umumnya menjual sarung tenun, taplak dengan tenunan khas dan motif yg juga khas seperti jaman2 indian gitu, simbol rumah dan orang
untuk harga memang agak sedikit mahal apalagi bila dibandingkan dengan membeli sarung di pengrajin lain/di pasar di luar suku sasak
taplak tenunan saja harganya bisa sekitar 70 ribuan kalo tidak salah, agak lupa juga..itu pun setelah menawar dengan sengit hehehe
warga perkampungan ini sudah menganut agama islam namun tradisi adat juga masih sangat kental, disana masih ada tradisi yang namanya kawin culik, menurut pemandunya walaupun sebenarnya
orang tuanya setuju tp sepasang sejoli masih tetap melakukan tradisi ini,entahlah apa tujuannya, yah sekedar memelihara tradisi mungkin, dan toh pada akhirnya mereka akan dinikahkan resmi di balai desa
melihat kesederhanaan dan kebersahajaan hidup mereka, membuat saya jadi berpikir mungkin hidup kami sedikit beruntung,paling tidak punya kesempatan lebih banyak melihat opsi hidup, dimanja dengan fasilitas
dan punya banyak pilihan untuk mengisi hidup…hidup bagi warga suku sasak sangat lah sederhana..tak ada keinginan berlebihan, tak dimanja dengan fasilitas dan tak tersentuh
modernitas, alami dan back to nature..dunia yang sungguh berbeda dengan kami yang datang berkunjung..pilihan mengisi hidup mereka juga terbatas dan hanya terpusat di kampung itu
saya bertanya pada pemandu, apakah anak2 disini sekolah, ya sebagian dari mereka bersekolah juga,minimal sekolah dasar setelah itu kembali ke kampung, bertani atau menjadi pengrajin
are they bored? well maybe sometimes they are.. tapi kita pun yang bergelimangan dengan segala kemudahan terkadang banyak yang gamang dan bosan, satu pelajaran yang dapat diperoleh dari mereka adalah menjalani hidup sesuai porsinya, jalani hidup yang ada atau yang kita pilih dengan sebaik-baiknya..penuh kebersahajaan harus ada orang-orang seperti mereka yang tetap kukuh menjaga tradisi, well
indonesia memang sungguh luar biasa kaya akan budaya dan tradisi, jadi salut untuk mereka yang masih bisa bertahan mempertahankan semangat tradisi di tengah derasnya arus modernitas (atau sok modern hehe), individualitas dan matrelialitas dunia.